Menarik,
itulah tanggapan saya saat pertama kali melihat cover buku sastra ini. Bukan art-cover nya yang bikin mata saya
berwarna, art-cover nya sih oke, cuma
judul buku itulah yang sangat menarik. Yakni “99 Antologi Puisi PleidoiBecakan” karya Madi Omdewo. Otomatis saya comot aja buku itu dari rak buku
koleksi kawan saya. Maklum, kami suka tukeran buku sama temen, tapi kawan saya
bukunya lebih ngeri banyaknya, gimana nggak, dia kerja di penerbitan sih :D, nih
buka aja dan mampir Puisi Seorang Tukang Becak
Kembali ke
buku.Yang lebih membuat saya
terpana adalah ketika membaca profil pengarangnya, kebiasaan lama, kalau baca
buku mesti pengen tahu riwayat pengarangnya dulu. Bahwa om Madi Omdewo ini
merupakan paruh baya asli Surabaya yang semenjak kecil hidup dalam kekangan
batas ekonomi. Ibunya,emak Sutiyah
merupakan bakul srawut-tiwul dan singkong rebus, sedangkan sang ayah dulunya adalah
tukang kayu & batu. Nah, si Madi remaja ini rupanya punya ketertarikan
khusus terhadap sastra puisi, bahkan dia dulunya sering dimintai tolong
kawannya untuk membuatkan puisi untuk kekasihnya.Yang paling
menarik, entah sang penulis hanya berendah diri atau maksud lain saat ini sang
penulis, yakni om Madi berprofresi sebagai tukang becak alias ngetrek kalau bahasa jawanya. Dia merasa
kebutuhan menulis puisi pleidoi adalah rasa “lapar” baginya dan wajib dilakukan
seusai “mbecak”.Oke, mari
kita jelajahi puisi demi puisi dari om Madi ini. 99 puisi yang tersaji memang
bisa kita sebut sebagai puisi historis urban atau metropolis yang kental.
Sebagai pengayuh becak tentu belia akrab dengan pelosok tertentu jalan aspal
maupun kerikil di sudut kota. Seluruh fenomena dan detail haru-biru di berbagai
sudut kota Surabaya di kucurkan melalui sebaris kata kiasan yang bermakna.Ada “Kala
Rupiah Estafet di IRBA” yang berisikan fenomena pedagang ikan hias dan kelinci
di sepanjang deretan jalan Irian Barat tepi sungai Brantas. Digambarkan melalui
kata indah sang penulis, bahwa Irba telah bertanformasi menjadi surga bagi
pedagang maupun penggemar ikan hias Surabaya. Digambarkan betapa pasar ikan
disitu menjadi ladang bisnis yang sukses dan menggiurkanLalu “Surat
Yth Kepala Dinas” yang merupakan apresiasi sang penulis entah kepada walikota
entah kepada siapa, yang jelas disitu terasa sekali apresiasi om Madi terhadap
keindahan area tengah kota Surabaya yang elegan, penuh mobilitas dan selalu tak
pernah sepi. Tanpa banyak bermetafora namun lumayan meresap dengan bahasa yang
natural dan tak terlalu hiperbola.Atau “Badai
Bulan Desember” yang merepresentasikan makna lagu milik kelompok musik cadas
asal Surabaya, yakni AKA. Dimana nilai kehidupan yang dramatis dan menyilaukan
terangkum lembut dalam rangkaian kalimat sang penulis. Dan masih banyak lagi
judul-judul puisi yang isinya patut kita resapi. Bahkan saya masih terpana
bagaimana seorang penarik becak bisa merangkai untaian kata dengan indah
seperti ini, great!!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar