Jumat, 02 November 2012

Jangan Bakar Buku

"Karena setiap lembarnya, mengalir berjuta cahaya.. aah... aah...
Karena setiap aksara membuka jendela dunia.. aah... aah... 

Kata demi kata mengantarkan fantasi
Habis sudah, habis sudah
Bait demi bait pemicu anestesi
Hangus sudah, hangus sudah

Karena setiap abunya membangkitkan dendam yang reda
 Karena setiap dendamnya menumbuhkan hasutan baka"

Yup, barisan frase diatas adalah untaian yg dibuat oleh band indie Efek Rumah Kaca. Jujur, saya baru kali ini menemukan band yang topik lagunya sangat unpredictable. Mana ada band yang ngambil tema tentang buku hahahaha. Sangat kreatif memang band ERK. Btw, ada benarnya proyeksi dalam lirik lagu diatas. Semakin lama keberadaan buku secara harfiah mulai tergerus. Memang sekarang kita merasa gak ada perubahan aPa-apa. Kalau ke gramedia, atau ke toko buku ya masih banyak aja buku-buku yang dipajang dan gak pernah habis.

Tapi eksistensi buku saat ini hanya sebatas pada "dasar", sedangkan ruang mainstreamnya tetap saja dikuasai oleh internet. Bahkan tablet pc mana yg saat ini tidak menyediakan aplikasi untuk e-book. Hmm, padahal bagi saya membaca buku yang benar-benar nyata adalah ketika kita bisa meraba tiap sudut covernya, dapat menghirup aroma kertas dan membolak-balik lembar sesuai keinginan kita. Nggak sreg rasanya kalau membaca suatu novel atau tulisan melalui ebook atau media selain kertas lainnya. Yup, maka dari itu lestarikanlah buku & "Jangan Bakar Buku!"

Jumat, 26 Oktober 2012

Buku Harian Wanita Yang Natural



Wanita yang secara kasat mata tampak rapuh dan lemah ternyata menyimpan sisi tegar dan kekuatan batin yang luar biasa besar. Dan buku Diary si Mom ini merupakan rangkaian pengungkapan pengalaman mengenai impian seorang wanita, kekacauan rumah tangga, hingga kekuatan masif sang ibu dalam mengasuh anaknya seorang diri atau single fighter. Dituangkan dengan bahasa bertutur yang lembut dan penuh penghayatan, namun tidak terksesan menye. Dan pastinya, mampu memberikan wejangan hidup kepada para calon ibu atau ibu muda yang sedang meniti karir rumah tangga.hmm, pasti ada puluhan tanda tanya di kepala kalian, kalimat apakah gerangan diatas? yup, saat membaca sinopsis diatas saya lumayan tersentuh dengan tiap-tiap diksinya. Berawal dari situlah saya mulai tertarik membaca buku yang di-sinopsiskan diatas, yup, judulnya adalah "Diary si Mom". Kenaturalan bertutur, majas yg tak terlalu hyper & pembelajaran yang luar biasa. Bagi yg penasaran silahkan aja mampir ke Diary si Mom

Rabu, 24 Oktober 2012

Kata-Kata Indah Dari Seorang Pengayuh Becak



Menarik, itulah tanggapan saya saat pertama kali melihat cover buku sastra ini. Bukan art-cover nya yang bikin mata saya berwarna, art-cover nya sih oke, cuma judul buku itulah yang sangat menarik. Yakni “99 Antologi Puisi PleidoiBecakan” karya Madi Omdewo. Otomatis saya comot aja buku itu dari rak buku koleksi kawan saya. Maklum, kami suka tukeran buku sama temen, tapi kawan saya bukunya lebih ngeri banyaknya, gimana nggak, dia kerja di penerbitan sih :D, nih buka aja dan mampir Puisi Seorang Tukang Becak
Kembali ke buku.Yang lebih membuat saya terpana adalah ketika membaca profil pengarangnya, kebiasaan lama, kalau baca buku mesti pengen tahu riwayat pengarangnya dulu. Bahwa om Madi Omdewo ini merupakan paruh baya asli Surabaya yang semenjak kecil hidup dalam kekangan batas ekonomi. Ibunya,  emak Sutiyah merupakan bakul srawut-tiwul dan singkong rebus, sedangkan sang ayah dulunya adalah tukang kayu & batu. Nah, si Madi remaja ini rupanya punya ketertarikan khusus terhadap sastra puisi, bahkan dia dulunya sering dimintai tolong kawannya untuk membuatkan puisi untuk kekasihnya.Yang paling menarik, entah sang penulis hanya berendah diri atau maksud lain saat ini sang penulis, yakni om Madi berprofresi sebagai tukang becak alias ngetrek kalau bahasa jawanya. Dia merasa kebutuhan menulis puisi pleidoi adalah rasa “lapar” baginya dan wajib dilakukan seusai “mbecak”.Oke, mari kita jelajahi puisi demi puisi dari om Madi ini. 99 puisi yang tersaji memang bisa kita sebut sebagai puisi historis urban atau metropolis yang kental. Sebagai pengayuh becak tentu belia akrab dengan pelosok tertentu jalan aspal maupun kerikil di sudut kota. Seluruh fenomena dan detail haru-biru di berbagai sudut kota Surabaya di kucurkan melalui sebaris kata kiasan yang bermakna.Ada “Kala Rupiah Estafet di IRBA” yang berisikan fenomena pedagang ikan hias dan kelinci di sepanjang deretan jalan Irian Barat tepi sungai Brantas. Digambarkan melalui kata indah sang penulis, bahwa Irba telah bertanformasi menjadi surga bagi pedagang maupun penggemar ikan hias Surabaya. Digambarkan betapa pasar ikan disitu menjadi ladang bisnis yang sukses dan menggiurkanLalu “Surat Yth Kepala Dinas” yang merupakan apresiasi sang penulis entah kepada walikota entah kepada siapa, yang jelas disitu terasa sekali apresiasi om Madi terhadap keindahan area tengah kota Surabaya yang elegan, penuh mobilitas dan selalu tak pernah sepi. Tanpa banyak bermetafora namun lumayan meresap dengan bahasa yang natural dan tak terlalu hiperbola.Atau “Badai Bulan Desember” yang merepresentasikan makna lagu milik kelompok musik cadas asal Surabaya, yakni AKA. Dimana nilai kehidupan yang dramatis dan menyilaukan terangkum lembut dalam rangkaian kalimat sang penulis. Dan masih banyak lagi judul-judul puisi yang isinya patut kita resapi. Bahkan saya masih terpana bagaimana seorang penarik becak bisa merangkai untaian kata dengan indah seperti ini, great!!!!!!


Buku Cerdas Mengenai SOP


Suatu keberuntungan punya seorang kawan yang kerja di Penerbit. Bagaimana tidak, untuk seorang penggila baca kayak saya gini membaca buku secara free adalah suatu yang sedikit “wah”. Bukannya doyan gratisan, tapi ya mumpung ada kesempatan, hehehe. Kawan saya ini bekerja di Penerbit domisili Surabaya, namanya Penerbit SIC. Memang awalnya saya merasa biasa aja sama penerbit tersebut, secara saya kira nggak jauh beda sama penerbit lainnya.Nah, ketertarikan saya dengan Penerbit tersebut berawal saat saya main kerumah kawan saya. Kebetulan di rumahnya menumpul buku-buku terbitan tempat kerjanya itu. Dasar book addict, begitu lihat tumpukan buku nganggur dan siap untuk dibaca mata saya langsung berbinar. Tanpa babibu langsung aja saya nyomot satu persatu buku milik penerbitan kawan saya itu dan membaca sekilas blurb di bagian belakang cover. Dan hasilnya??? Lumayan jatuh cinta sama penerbitnya. Karena Penerbit tempat kerja temen ane itu punya karakteristik sendiri, mulai dari penulis daerah yang potensial, buku fiksi hingga ilmiah yang paten dan lainnya.Nah, kebetulan saya kala itu ngebaca buku mengenai SOP (Standar Operating Procedure) yang biasa diterapkan di perusahaan. Nah,sy mau sharing-sharing dikit nih tentang rahasia membangun SOP milik penerbit SIC yang sy baca. Judulnya “Rahasia Membangun SOP”  lumayan recomended. Klik aja Cara Cerdas Membangun SOP Penerbit SIC Apalagi penulis buku ini juga nggak asal nulis aja. Beliau sebelumnya telah memliki pengalaman bekerja di industri manufaktur yang bergerak di bidang Automotive Part Jepang. Disini dieksplorasi mengenai prinsip membuat SOP yang terprosedur dan rapi.Ini nih bukunya,
Evaluasi adalah faktor penting dalam mengukur efektifitas suatu SOP. SOP Tanpa parameter pengukur kesesuaian standar yang disyaratkan menyimpan peluang kegagalan. Kehadirannya dianggap remeh, maka sedikit sekali yang concern padanya. Padahal tanpa SOP segalanya menjadi lebih rumit dan sulit. Maka dari itu, SOP harus dibuat dengan materi yang matang dan penuh perhitungan. Dan beragam metode untuk membangun SOP yang kuat adalah salah satunya pemastian kualitas, standarisasi memperkecil peluang kegagalan hingga diagnosis sistem organisasi. Bagi perancang SOP buku ini sangat bagus untuk dijadikan referensi. Silahkan membaca